|
Pada bulan Februari 2010 ini, tidak terasa Jurusan Ilmu Politik (JIP) telah memasuki usianya yang ke-10. Usia 10 tahun memang relatif muda bagi sebuah lembaga, tapi rentang 10 tahun pertama sangat penting dicermati karena ini bisa menjadi tolak ukur menentukan arah pengembangannya ke depan. Tulisan ini merupakan kilas balik perjalanan JIP selama 10 tahun keberadaannya. Dengan mengetahui kilas balik selama 10 tahun terakhir, akan terlihat bagaimana sebuah lembaga membangun dirinya, membentuk identitasnya, dan akhirnya menentukan keunggulan khasnya dibanding lembaga pendidikan sejenis di Indonesia.
Periode Pertama (2000-2004)
Jurusan Ilmu Politik atau JIP adalah jurusan paling muda di lingkungan FISIP UNSOED yang dibuka pada awal tahun 2000 berdasarkan SK. Dirjen Dikti No. 18/2000 tanggal 7 Februari 2000. JIP memulai aktivitasnya dari sebuah ruang sempit bekas gudang berukuran 3x7 meter di lantai satu. Pada awalnya, ruang dosen ini hanya dilengkapi dengan seperangkat meja kursi, lemari arsip, serta sebuah komputer dan printer tua hasil pinjaman dari Labkom fakultas. Dengan perlengkapan kantor yang seadanya ini, JIP memulai aktivitas akademiknya dengan menerima mahasiswa perdana pada tahun akademik 2000/2001 sebanyak 67 orang.
Pada tahun 2001, ruang JIP pindah menempati ruangan yang lebih besar yang sebelumnya dipakai sebagai kantor koperasi mahasiswa di lantai satu. Ada cerita menarik tentang perpindahan ini karena pengurus koperasi saat itu tidak merelakan kantor miliknya diambil alih meski sudah mendapat peringatan dari pimpinan fakultas, sehingga para pendiri sampai harus mengerahkan bantuan mahasiswa JIP untuk 'memaksa' pengurus koperasi angkat kaki. Perpindahan ke ruangan baru ini sedikit melegakan seiring dengan beban akademik yang semakin banyak dan bertambahnya staf pengajar. Perpindahan ke ruang baru ini sekaligus juga mengawali perubahan pertama JIP menjadi lebih mapan secara kelembagaan.
Antara 2000-2004, JIP memulai langkah awal dalam penataan kelembagaannya antara lain dengan;
1. Rekruitmen dosen baru; pada periode ini JIP mendapat tambahan tenaga dosen sebanyak 7 orang, yaitu Luthfi Makhasin & Ahmad Rofik (2001), Tunjung Linggarwati (2002), dan Indaru Setyo Nurprojo, Sofa Marwah dan Nuriyeni Kartika Bintarsari (2003) dan Waluyo Handoko (2003). 2. Pendirian Laboratorium Ilmu Politik pada tahun 2002. Ada dua inisiatif penting yang dilakukan Labpol pada awal pendiriannya yaitu, a). menerbitkan Jurnal Politik dan Pembangunan SWARA POLITIKA dibawah Drs. Bambang Suswanto sebagai Ketua Redaksi, dan b). Pendirian Perpustakaan dengan memanfaatkan paket bantuan buku referensi yang diberikan oleh rektorat sebagai modal awal. 3. Perbaikan Kurikulum; mengadakan lokakarya jurusan pada tahun 2002 di Baturaden yang menetapkan perubahan kurikulum berdasarkan pembagian menurut dua konsentrasi studi; Politik Pemerintahan Lokal dan Perbandingan Politik. 4. Penambahan fasilitas pendukung; melalui Labpol, JIP mengajukan proposal kepada rektorat untuk mendapatkan dukungan pendanaan bagi renovasi dan penambahan ruang kantor untuk Labpol, dana program dan operasional, dan pengadaan alat pendukung kantor serta paket buku referensi. Dari beberapa usulan ini, hanya pengadaan alat pendukung kantor dan paket buku referensi yang disetujui oleh Rektorat, seperti AC ruangan, satu komputer plus printer baru, perangkat televisi dan audio visual, serta bantuan buku referensi sejumlah kurang lebih 100 judul/300 eksemplar menjadi modal awal yang berharga bagi pengembangan awal JIP.
Keempat langkah ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan jurusan karena ini meletakkan landasan yang kuat bagi arah pengembangan fasilitas, sumber daya manusia, kultur dan layanan akademis selanjutnya di JIP. Ketiga langkah ini juga tidak semata melibatkan dosen JIP tapi semua pemangku kepentingan yang ada di kampus, yaitu pimpinan fakultas/universitas, dosen, dan yang tidak kalah pentingnya juga adalah mahasiswa. Dalam hal penerbitan jurnal misalnya, mahasiswa terlibat aktif dari awal dalam mengusulkan nama, merancang desain, me-lay out isi jurnal, mencari percetakan, dan mendistribusikannya kepada pembaca.
Disamping keterlibatan semua pemangku kepentingan, pengembangan JIP juga sangat kuat dipengaruhi semangat kemandirian. Menghadapi keterbatasan sumber daya yang ada, JIP menyiasatinya dengan berbagai macam cara. Hal ini diantaranya dibuktikan dengan mengadakan iuran wajib dan sukarela di antara dosen untuk sekedar membeli gula/kopi dan berlangganan surat kabar yang telah dilakukan sejak awal berdirinya sampai sekarang.
(bersambung...)
|